Latest news

Mencatak Mutiara Dari Dalam Asrama

Sekolah berasrama kini menjadi sebuah fenomena menarik di masyarakat urban. Berbagai keunggulan ditawarkan. Sekolah model ini malah disebut-sebut bakal melahirkan pemimpin berkualitas pada masa depan. Betulkah demikian?

Dunia pendidikan di Indonesia kini semakin berkembang dan mengalami perubahan. Kemunculan berbagai sekolah berasrama (boarding school), khususnya di wilayah perkotaan, menjadi satu bukti perkembangan dunia pendidikan Tanah Air. Salah satu sekolah yang memberikan pendidikan secara komprehensif adalah Insan Cendekia Madani (ICM) yang terletak di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan.

Dalam pengamatan KORAN SINDO yang mengunjungi sekolah ini kemarin, para siswa melakukan sejumlah aktivitas mulai bermusik, latihankarate dantaekwondo, bermainbola, hinggalatihansiaranradio. Maklum, di sekolah ini pada Sabtu dan Minggu merupakanlibursekolahformal. Karena itu, para siswa mengisi dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Elkana Alifi Maruf, siswa kelas VIII yang baru selesai bermain baseball ketika ditemui KORAN SINDO, menjelaskan memilih belajar di boarding school karena tidak perlu terjebak macet ketika akan sekolah.

”Pada malam hari juga bisa bertemu guru karena mereka dekat ada di sekitar kita,” ujar Elkana. Peraih medali perunggu bidang Fisika pada ajang 2nd ASEAN Plus Three Junior Science Odyssey(APTJSO) yang dihelat di Busan Kores Selatan ini mengaku kemampuannya terasah ketika berada di asrama. Sejak sekolah dasar sebenarnya sudah menyukai pelajaran IPA, namun lebih terarah ketika di SMP. Berbeda dengan Elkana, Muhammad Firdan Juliansyah, siswa kelas XII, ingin melanjutkan kuliah di bidang agama.

Walaupun kini menyukai pelajaran sains, khususnya tentang sayap pesawat terbang, dia menilai pengetahuan agama perlu didahulukan. ”Di sini kami bisa memilih minat dan mengembangkan potensi masing-masing,” kata Firdan yang saat ini sudah mengajukan Rekor Museum Indonesia (Muri) karena mampumenghafal113lagu kebangsaan. Untuk biaya masuk ICM, Firdan mengaku membayar Rp28 juta (angkatan pertama).

Setiap bulan mereka membayar Rp2,1 juta. Semua biaya ini dinilai sesuai dengan fasilitas yang mereka dapat. Mulai dari laboratorium, sarana olahraga, sekolah, dan sarana ibadah. Para siswa bisa memaksimalkan semua asrama dan kegiatan yang ada untuk meningkatkan potensi mereka. Menurut Direktur Eksekutif ICM Muthahhir M Afif, saat ini masyarakat mampu sangat selektif mencari lembaga pendidikan untuk buat hati mereka. Mereka bahkan tidak sungkan untuk menyekolahkan ke luar negeri.

Ini menandakan sekolah berkualitas sangat dibutuhkan masyarakat. ICM yang berada di bawah Yayasan Edukasi Sejahtera (YES) tidak mendikotomikan ilmu umum dan agama karena dua hal tersebut berkaitan. Dia mencontohkan, siswa bisa belajar agama melalui fisika. Kemampuan bahasa Inggris juga bisa dilatih untuk menyampaikan dakwah dan sejumlah contoh lain. Saat ini ICM tidak hanya menghadirkan tokoh berlatar agama yang bagus, tapijuga native speakersuntukmelatihbahasa asing.

”Di sini ada Noordin Sarrouj, orang berdarah Arab berkebangsaan Belgia yang menguasai lima bahasa mengajar di semua kelas sebagai native speakers.Kami juga bekerja sama dengan sejumlah lembaga di luar negeri,” kata Muthahhir yang mengaku 20% siswa ICM mendapatkan beasiswa. Sementara itu, Ketua Yayasan Edukasi Sejahtera Kahirul Alwan Nasution mengatakan, sekolah bersistem boarding school harus bisa berperan tidak hanya sebagai pengajar dan pendidik, tapi juga orang tua.

Ketika siswa masuk boarding school ada transisi antara suasana rumah dan asrama. ”Hal ini biasa. Anak yang mulanya dekat atau manja dengan orang tua dituntut untuk mandiri,” ucap dosen pascasarjana Universitas Indonesia ini. Sementara itu, Pipik Dian Irawati, salah satu orang tua siswa, mengatakan, dia bersama anaknya melakukan survei sebelum memilih ICM. Dia melihat semua ruangan termasuk ruang tidur agar anak bisa membayangkan masamasa yang akan dilaluinya.

Pipik, istri almarhum Ustaz Jeffry Al-Buchori (Uje), mengaku selama lebih dari satu tahun belajar di ICM, putrinya, Adiba Khanza Az-Zahra (kelas VII), mengalami sejumlah peningkatan. Adiba suka menulis khususnya dalam bahasa Inggris. ”Saya dan almarhum (Ustaz Uje) tidak memaksakan kehendak untuk memilih pendidikan anak,” kata Pipik yang ditemui KORAN SINDOdi ICM kemarin. Menurut Direktur Pendidikan dan OperasionalICMSaptoSugijarto, sarana dan kegiatan di asrama menunjang pendidikan sekolah.

Keberadaan siswa di asrama membuat mereka bisa belajar lebih banyak dengan bimbingan para guru. Dalam kehidupan boarding school, siswa diajarkan kemandirian dan life skill yang berguna bagi kehidupan mereka. Sapto mencontohkan, di ICM kegiatan pengajaran sekolah mengacu pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Selain menunjang pelajaran sekolah, di asrama juga dikembangkan kegiatan yang berorientasikan keislaman.

Terbukti, perpaduan sekolah dan asrama ini membuat sejumlah siswa ICM berprestasi hingga tingkat internasional. Pengamat pendidikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Makmuri Sukarnu menyebutkan, sekolah berasrama bukanlah hal baru bagi Indonesia. Pola ini sebenarnya sudah diterapkan budaya pesantren. ”Dari sisi akademik sekolah berasrama positif karena siswa bisa belajar lebih intensif. Siswa juga didekatkan dengan academic culture,” kata Makmuri. islahuddin

 

(sources : koran sindo http://www.koran-sindo.com/node/333551)